Translate

Selasa, 18 April 2017

DIGITAL SMART SCHOOL SMA NEGERI 15 BANDUNG

Oleh: Chakra Narasangga
   Dalam artikel ini penulis akan membahas masalah seputar teknologi di SMAN 15 Bandung. Maka dari itu penulis memilih judul "DIGITAL SMART SCHOOL".

   Artikel ini berbeda dengan makalah yang ada sebelumnya karena mengangkat topik yang baru baru ini menjadi perbincangan. Maka dari itu artikel ini merupakan yang perdana.
   Artikel ini bermanfaat sebagai tinjauan untuk pihak sekolah agar mampu meningkatkan dan juga memperbaiki teknologi-teknologi yang sudah diterapkan di SMA Negeri 15 Bandung.

   Permasalahan dalam artikel ini adalah kurangnya fasilitas teknologi seperti komputer dan wi-fi yang menyebabkan aktifitas kegitan belajar mengajar yang mengharuskan menggunakan komputer dan internet tidak berjalan dengan baik. Solusinya adalah menambah fasilitas teknolgi di SMAN 15 Bandung.

  Tujuan penulisan artikel berjudul "DIGITAL SMART SCHOOL" yaitu penulis ingin mengetahui permasalahan teknologi apa saja yang terdapat di SMAN 15 Bandung, penulis juga ingin mengetahui penyebab masalah tersebut, selain itu penulis ingin mengetahui akibat dan juga mencoba mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

   Masalah dalam artikel "DIGITAL SMART SCHOOL" terbatas pada permasalahan teknologi di SMAN 15 Bandung.

   Pada artikel ini penulis berusaha menjelaskan tentang definisi dan fungsi teknologi.

   Sumber data yang penulis sajikan dan bahas dalam artikel ini berasal dari berbagai macam sumber diantaranya observasi, dan analisis pustaka.

   Metode yang digunakan dalam penulisan artikel adalah metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan tentang masalah, penyebab, akibat dan solusi.Teknik yang digunakan adalah observasi dan analisis pustaka.

   Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.

   Sekarang ini banyak sekali sekolah-sekolah yang mengklaim diri sebagai sekolah digital, yang mereka maksud dengan penyediaan jaringan internet berkecepatan tinggi atau juga wireless/wifi ditempat mereka. Seakan-akan, dengan menyediakan perangkat wifi, sudah jaminan bahwa sekolah tersebut adalah sekolah digital. Kalau memang demikian halnya, apa bedanya sekolah-sekolah tersebut dengan cafe-cafe yang punya hotspot, atau taman-taman bermain/fasilitas umum yang sudah dilengkapi wifi?

   Sebetulnya pengertian digital dalam hal ini digitalisasi sekolahan bukanlah sekedar menambah alat supaya murid atau pengunjung yang datang dapat berselancar ria di lingkungan sekolah. Juga bukan sekadar membuat website atau blog agar pengunjung bisa melihat visi-misi sekolah dan/atau mendaftarkan anak didik secara online. Ini semua hanyalah salah satu alat sosialisasi dari sekolah yang bersangkutan.

   Inti dari digitalisasi administrasi sekolah sendiri, sehingga hasil akhirnya bisa disebut Sekolah Digital adalah proses migrasi data dari yang tadinya hanya dapat diakses secara tercetak dalam lingkup sempit yaitu data dan dokumen kertas, ke data digital yang berupa file-file yang dapat diakses baik oleh publik maupun secara terbatas. Ada peran penting supaya sekolah biasa menjadi sekolah digital, yaitu proses migrasi tadi, dengan kata lain pekerjaan mengganti dokumen kertas menjadi dokumen digital.

Senin, 06 Februari 2017

SMART SCHOOL PARK SMAN 15 Bandung

SMART SCHOOL PARK SMAN 15 Bandung



Jenuh dan bosan adalah perasaan yang kerap timbul dalam benak dan pikiran pelajar ketika terus-terusan belajar di dalam kelas. Pola kegiatan belajar mengajar (KBM) yang kaku seperti itu coba diubah oleh SMA Negeri 15 Bandung dengan membuat taman belajar di lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Sarimanis, Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung itu.
Taman yang diberi nama Smart School Park ini berada di tengah-tengah ruang kelas. Sebelum menjadi taman belajar, taman ini diberi nama taman ketapang. Taman ini dulunya ditumbuhi oleh tanaman liar sehingga tidak nyaman digunakan belajar. Menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 15, Hatta Saputra, taman ini dibangun dengan tujuan agar bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di luar kelas sehingga siswa tidak jenuh dan bosan.
Taman berlantai beton itu memiliki ukuran 30×20 meter persegi. Taman ini memiliki sejumlah fasilitas yang dapat digunakan oleh siswa. Di sisi barat, selatan, dan timur terdapat tiga tempat yang dinamai pojok literasi. Pojok ini bisa digunakan siswa untuk kegiatan membaca, mecari informasi di internet, atau sekedar duduk-duduk santai. Bentuk spot pojok literasi mirip dengan halte angkutan yang seringkali ditemui di jalan. Terdapat tempat duduk berbahan beton dengan atapnya. Di bawah tempat duduk terdapat kolam. Selain itu, di setiap spot pojok literasi, terpasang spanduk bergambar foto mantan kepala sekolah di SMA Negeri 15.
Sementara di sisi utara, terdapat pojok panggung seni. Panggung ini biasa digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pentas seni, fashion show dan lain-lain. Pihak sekolah membuat panggung kecil secara permanen. Panggung itu, berada tepat di bawah pohon katapang yang sudah puluhan tahun hidup di tengah-tengah sekolah. Suasana di taman ini amat sejuk lantaran terdapat berbagai tanaman dan satu pohon katapang tersebut.
Adanya taman belajar ini menambah areal ruang terbuka di sekolah tersebut, setelah sebelumnya memiliki lapangan olahraga. Di taman belajar ini, nantinya akan digunakan bagi siswa untuk belajar beberapa mata pelajaran seperti kimia, bahasa Indonesia, dan seni musik. Jadi dengan adanya taman ini dapat menhilangkan kejenuhan dalam kegiatan belajar mengajar siswa dan juga diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas siswa.